kimi@net lihat situs sponsor

Sabtu, 19 Agustus 2017  
 
  LIPI
depan
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Konsumen Harus Jeli Deteksi Bahan Kimia
YD

MENURUT pakar gizi Prof Ali Khomsan, yang menjadi alat deteksi awal dari keberadaan bahan kimia tambahan dalam makanan adalah kejelian konsumen. Masyarakat harus jeli untuk memastikan kandungan yang terdapat dalam label isi kemasan. Kasus keracunan makanan akibat bahan pengawet, sambungnya, terjadi akibat rendahnya kewaspadaan konsumen.

Kelengahan konsumen tersebut, katanya, diperparah dengan rendahnya pengawasan oleh aparatur yang menjadi pengawas keamanan pangan. Selain soal sumber daya manusia yang masih minim, lanjutnya, luas area yang harus dipantau juga terlalu luas.

"Selama ini, konsumen hanya terfokus dalam melihat persoalan kedaluwarsa," katanya.

Kendala lain dalam mengawasi penggunaan bahan pengawet adalah peredaran bahan kimia tersebut bagi industri makanan rumahan yang jumlahnya sangat besar.

"Kalau industri besar harus memiliki responsibilitas serta tanggung jawab usaha," sebutnya. Keracunan makanan, katanya, juga dikontribusikan buruknya kemasan produk.

Terkait dengan keberadaan bahan tambahan dalam makanan sebagai pengawet, Ali mengatakan, sesungguhnya hal tersebut tidak menurunkan status gizi makanan bila bahan pengawet tersebut memang ditujukan bagi bahan konsumsi.

"Yang banyak dipakai di pasaran adalah bahan pengawet murah meriah, namun buruk bagi kesehatan," jelasnya.

Sebetulnya, lanjut Ali, tingkat gizi makanan dipengaruhi oleh cara pengolahan dan penyimpanan bahan pangan. Menyangkut soal jajanan anak sekolah, menurut Ali, kalau dipaparkan dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan kanker.

"Bisa jadi di usia muda sekitar 30-40 tahun orang terkena kanker," katanya.

Karena itu, dia menyarankan agar pemerintah dapat segera melakukan pendidikan serta penyuluhan bagi produsen makanan rumahan, sekaligus menjalankan penegakan hukum secara tegas.

"Pemerintah harus dapat memberikan efek jera bagi mereka yang membahayakan kesehatan publik dan generasi mendatang," ungkapnya.

Peran sekolah dan orang tua dalam menyeleksi makanan bagi anak sekolah, sambungnya, dapat menjadi benteng utama dalam mencegah masuknya bahan pengawet berbahaya bagi anak-anak.

"Sebaiknya pihak sekolah harus mengelola kantin sekolah dengan baik, selain itu orang tua juga tetap menjalankan fungsi edukasi," sambungnya.

Selain problem tersebut, Ali juga menyatakan, penyajian makanan dapat menurunkan indeks kecerdasan anak. Jika tidak berhati-hati memilih makanan sehat, gejala yang sering terjadi adalah diare. "Bila makanan terkena logam berat dari asap kendaraan bermotor, maka anak-anak rentan mengalami kemunduran kecerdasan," paparnya.

Sumber : Media Indonesia (8 Desember 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 12 Desember 2004

 

- sejak 1 September 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI