kimi@net lihat situs sponsor

Kamis, 19 Oktober 2017  
 
  LIPI
depan
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Diskriminasi Sains terhadap Perempuan
Sulfikar Amir (Rensselaer Polytechnic Institute)

Sore itu, Rosalind Franklin kedatangan seorang lelaki yang mengaku bernama James Watson. Franklin kurang menyukai Watson yang tampak mencurigakan tersebut, terlebih karena minatnya terhadap hasil X-ray crystallography yang dikerjakan Franklin selama berbulan-bulan. Franklin tidak tahu bahwa sepuluh tahun kemudian, Watson menjadi salah satu penerima hadiah Nobel karena pertemuan singkat itu.

Franklin merupakan seorang ahli kimia lulusan Cambridge yang bekerja di salah satu laboratorium King's College di London. Dia sebenarnya telah lama mengeluhkan kondisi kerja di universitas bergengsi tersebut. Segregasi dan diskriminasi terhadap perempuan dialami pahit oleh Franklin.

Dia harus menempati sebuah laboratorium di lantai basement yang harus melewati lorong dingin dan gelap. Dirinya dilarang masuk ruang makan dan istirahat yang nyaman serta bergengsi di lantai atas karena hanya diperuntukkan bagi para peneliti laki-laki. Tetapi, Franklin memilih bertahan karena di situlah satu-satunya tempat dia bisa mengaplikasikan teknik X-ray crystallography yang dikuasainya.

X-ray crystallography merupakan teknik yang digunakan Franklin untuk memetakan lokasi setiap atom dalam protein yang dikristalkan. Hal itu merupakan kontribusi penting Franklin dalam mempelajari biologi molekuler. Tetapi, harga yang harus dibayar Franklin terlalu mahal. Pada usia 38 tahun, dia meninggal dunia akibat kanker yang dideritanya karena kontaminasi radioaktif selama beberapa tahun.

Empat tahun sepeninggal Franklin, James Watson dan Francis Crick menerima hadiah Nobel dalam bidang kedokteran atas paper mereka tentang struktur DNA yang berbentuk double helix yang merupakan penemuan revolusioner dalam bidang genetika. Maurice Wilkins, koordinator riset tempat Franklin bekerja, juga menerima hadiah yang sama atas kontribusinya dalam menguji model double helix yang dikembangkan Watson dan Crick.

Diskriminasi Perempuan

Walaupun Franklin disebutkan dalam paper Watson dan Crick setebal satu setengah halaman yang dimuat di majalah Nature tersebut, nama dia nyaris tak terdengar dalam sejarah penemuan struktur DNA. Padahal, Franklin merupakan orang pertama yang mendapatkan hasil empiris dari foto-foto struktur DNA yang dimungkinkan oleh teknik X-ray crystallography yang dia kembangkan selama bertahun-tahun.

Watson dan Crick merupakan dua sainstis ambisius yang dengan "licik" memanfaatkan data empiris Franklin secara diam-diam ketika mereka berusaha merekonstruksi struktur DNA. Dan, ketika dua nama tersebut menjadi selebriti dalam dunia sains, nama Franklin tersimpan dalam laci sejarah yang paling bawah dan nyaris tak tersentuh.

Franklin merupakan simbol diskriminasi perempuan dalam institusi sains modern, suatu institusi yang dibangun atas nama rasionalitas dan bebas nilai. Dia merupakan catatan sejarah, yakni bagaimana institusi sains membuka ruang bagi dominasi gender yang menjadikan perempuan sebagai objek penderita dari praktik hegemoni nilai-nilai maskulinitas.

Dan, Franklin tidak sendiri. Belasan bahkan puluhan nama perempuan dalam sejarah sains modern menjadi saksi bisu tentang hak-hak perempuan yang terbatasi hanya karena perbedaan biologis. Menurut Hilary Rose dalam Love, Power, and Knowledge (1994), jumlah perempuan yang sangat sedikit dalam daftar penerima Nobel bidang sains bukan merupakan kebetulan dan juga bukan merupakan bukti bahwa laki-laki jauh lebih pandai daripada perempuan.

Kritik Feminisme

Lalu, kacamata apa yang bisa kita gunakan untuk memahamai fenomena ini? Bukankah sains merupakan institusi untuk mencari kebenaran dan karena itu tidak mengenal perbedaan sosial, kelas, dan gender? Ini jika kita berasumsi secara naif bahwa kebenaran dalam sains bisa datang dari siapa saja. Tidak peduli dia berkulit hitam, bermata sipit, berkelamin perempuan, atau bahkan duduk di kursi roda seperti Stephen Hawking.

Sayangnya, sains bukan merupakan institusi yang seperti kita asumsikan. Kebenaran dalam sains merupakan kebenaran yang diproduksi melalui struktur sosial yang bersifat hierarkis, jauh dari sifat-sifat egaliter. Pada titik inilah, kritik feminisme atas praktik sains menjadi relevan.

Gerakan feminisme yang mendapatkan momentum sejarah pada 1960-an membuka mata kita bahwa sistem sosial masyarakat modern di mana kita berada memiliki struktur yang pincang akibat budaya patriarkal yang sangat kental. Marginalisasi peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik, merupakan bukti konkret yang diberikan kaum feminis.

Memasuki era 1990-an, kritik feminisme masuk dalam institusi sains yang merupakan salah satu struktur penting dalam masyarakat modern. Termarginalisasinya peran perempuan dalam institusi sains dianggap sebagai dampak dari karakteristik patriarkal yang menempel erat dalam institusi sains.

Tetapi, kritik kaum feminis terhadap institusi sains tidak berhenti pada masalah termarginalisasinya peran perempuan seperti yang diilustrasikan dalam kisah Franklin tersebut. Kaum feminis telah berani masuk dalam wilayah epistemologi sains untuk membongkar ideologi sains yang sangat patriarkal.

Dalam kacamata eko-feminisme, sains modern merupakan representasi kaum laki-laki yang dipenuhi nafsu eksploitasi terhadap alam. Alam merupakan representasi dari kaum perempuan yang lemah, pasif, dan tak berdaya. Dengan relasi patriarkal demikian, sains modern merupakan refleksi dari sifat maskulinitas dalam memproduksi pengetahuan yang cenderung eksploitatif dan destruktif.

Berangkat dari kritik tersebut, tokoh feminis seperti Hilary Rose, Evelyn Fox Keller, Sandra Harding, dan Donna Haraway menawarkan suatu kemungkinan terbentuknya genre sains yang berlandas pada nilai-nilai perempuan yang antieksploitasi dan bersifat egaliter. Gagasan itu mereka sebut sebagai sains feminis (feminist science).

Apa yang bisa kita pelajari dari sini? Kritik feminisme membuka mata kita bahwa marginalisasi dalam proses produksi pengetahuan sangat mungkin terjadi. Dan, marginalisasi tersebut tidak hanya terbatas pada dimensi gender seperti yang dikritik kaum feminis. Tapi, tidak mustahil hal itu juga terjadi dalam dimensi sosial lain seperti ras, etnis, dan budaya.

Sumber : Jawa Pos (25 Januari 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 8 Januari 2005

 

- sejak 1 September 2004 -
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI